Isu Kontemporer Terkait HI
Hello, Bloggers!!!👋🏻
Kali ini saya akan menulis tentang Isu Kontemporer terkait Hubungan Internasional, salah satunya adalah Pandemi Covid-19 dan Isu-isu yang Datang.
Pada penghujung tahun 2020, aktivitas manusia terhambat dan ekonomi pun melambat. Namun, sepertinya manusia mulai mengerti, terbiasa den pascapandemi tak sepenuhnya sama seperti dunia yang sebelumnya. Maka dari itu demi beradaptasi dengan kondisi dunia yang telah berubah, kita harus siap dengan segala kemungkinan yang akan datang.
Dikutip dari CNN Indonesia, Menurut Nouriel Roubini (2020) profesor ekonomi di New York University, mengingatkan setidaknya ada sepuluh alasan, mengapa potensi depresi ekonomi 2020 makin tak terhindarkan. Dari kesepuluh alasan yang diutarakan tercatat ada isu penting yang menarik untuk diulas, yakni deglobalisasi yangberkaitan dengan isu negara rentan. Dari peringatan yang dibuat oleh Roubini itu, justru menempatkan ketiganya sebagai fenomena yang akan menyeruak di kehidupan pascapandemi yang tidak hanya berpotensi memperparah krisis 2020.
Deglobalisasi adalah antitesis globalisasi. Konteks deglobalisasi adalah unsustainabillity dan fragility dari globalisasi itu sendiri (Bello, 2004:112), yang di beberapa sisi menimbulkan celah kemiskinan, ketimpangan, dan terhentinya ekonomi. Pada konteks sekarang deglobalisasi mencuat dalam rupa proteksionisme, yang sebelum pandemi sudah terdapat tanda-tandanya, yakni: Brexit dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Cina.
Dalam kondisi yang menyebar secara eksponensial demikian, Roubini (2020) berkomentar bahwa proses deglobalisasi antara AS dan Cina akan cepat berlangsung. Ia menyebut proses ini sebagai balkanisasi dan fragmentasi. Karena itu, dunia pascapandemi akan menjadi dunia yang penuh dengan pembatasan pergerakan barang dan jasa. Dalam bahasa Harold James (2020) sejarawan Princeton University, akumulasi itu berpotensi 'melenyapkan globalisasi'.
Proses Balkanisasi di tengah pandemi mulai tampak dari pelarangan ekspor hasil pertanian oleh negara penghasil produk pangan. Hal itu diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh negara untuk mengamankan kebutuhan domestik. Sehingga, menimbulkan persoalan pelik bagi negara yang sepenuhnya bergantung pada produk impor.
Amina Mohamed (2020), mantan Menteri Perdagangan Kenya, mengatakan proteksi arus barang memperburuk keadaan di negara-negara Afrika yang tengah berjuang mengatasi pandemi, misalnya distribusi peralatan penunjang penanggulangan pandemi yang terhambat menyebabkan kasus Covid-19 berkembang cepat.
Kemunculan pandemi Covid-19 yang penularananya pertama berasal dari kelelawar. Karena adanya kesalahan manusia dalam mengolah ekosistem lingkungan.
Ada kekeliruan manusia dalam membangun relasi dengan alam. Sebelum badai pandemi Covid-19, beberapa wabah yang juga melanda, seperti SARS (2002-2003), H1N1 (2009), MERS (2011), dan Ebola (2014-2016), juga berasal dari hewan.
Demikian, maka isu negara-negara rentan di masa pandemi juga penting untuk diperhatikan lebih serius. Sebab, fenomena ketimpangan antarnegara terasa menyayat kemanusiaan di tengah pandemi. Di saat sebagian manusia mudah memperoleh akses keselamatan atas Covid-19, sebagian manusia di wilayah konflik kebal akan rasa takut karena memang tidak ada hal yang bisa ditakutkan lagi, sebab kemiskinan yang begitu dahsyat.
Maka tugas dari pemerintah negara harus bisa menjaga komunikasi dengan masyarakat, menjaga agar isu-isu yang menyebabkan konflik tidak bermunculan.
Semakin memperhatikan penanganan kasus Covid-19 secara intensif, serta edukasi kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan, kebersihan, dan menggunakan masker atau (3M) (Mencuci tangan, Memakai masker, dan Menjaga jarak).
Terima kasih atas waktu kalian.
Ingat 3M dan tetap patuhi protokol kesehatan.
Stay Healthy!
See you 👋🏻

Komentar
Posting Komentar